Tampilkan postingan dengan label Wisata Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Suneung

Kalau di indonesia, anak kelas 3 SMA selalui sibuk dengan UAS (Ujian Akhir Sekolah) dan
SBMPTN untuk masuk universitas.
Di Korea, di SMA tidak ada UAS, namun ada Suneung. Apa itu Suneung?
Suneung adalah ujian yang diadakan untuk bisa masuk ke perguruan tinggi / universitas di Korea Selatan. Suneung diadakan 1 tahun sekali, biasanya pada bulan November. Mata pelajaran yang diujikan termasuk :
  • Bahasa Korea (국어 영역), 45 pertanyaan
  • Matematika (수학 영역), 30 pertanyaan
  • Bahasa Inggris (영어 영역), 45 pertanyaan
  • Ilmu Sosial (IPS)/PA/Vocational Education (탐구 영역), 20 pertanyaan
    • Social Studies (사회탐구 영역)
    • Sciences (과학탐구 영역)
    • Vocational Education (직업탐구 영역)
  • Bahasa Asing atau Karakter dan Klasik China (2외국어·한문 영역)
    • ArabChinaChina Klasik, Perancis, Jerman, Jepang, Rusia, Spanyol, Vietnam (Pilih satu)
Waktu yang dihabiskan untuk Suneung ini hampir 9 jam lho!
Ujian ini tidak hanya penting bagi si pelajar sendiri, tapi juga keluarga dan masyarakat!
Masyarakat Korea, saat “Suneung” berlangsung, anggota keluarga ikut mengantarkan siswa dan membawa spanduk penyemangat. Para adik kelas juga hadir menyemangati. Ataupun tidak hadir, tapi mereka mendukung pelajar yang mengikuti Suneung dengan berbagai cara
 
orang tua yang menunggu anaknya ujian,mendoakan semoga mendapat hasil baik
 Ataupun biasanya adik-adik kelas mereka menyemangati mereka 100 hari sebelum Suneung diadakan. Seperti memberi mug dan coklat yang bertuliskan semangat dan semoga mendapat nilai yang tinggi!
Mug bertuliskan kata-kata penyemangat
 
kue cokelat untuk memberi semangat

Saat “Suneung” berlangsung  pemerintah juga turut membantu dengan mempermudah akses jalan untuk para siswa menuju lokasi ujian. Pak Polisi dan pengendara sepeda motor bersiap siaga untuk membantu mengantarkan siswa-siswi yang terlambat.
pengendara sepeda motor yang membatu mengantarkan siswa yang terlamabat
Polisi juga ikut berpartisipasi dalam mengatarkan siswa
Dan apabila saat ujian “Suneung” lokasinya dekat dengan bandara/stasiun maka bandara/stasiun itu harus ditutup selama ujian. Tidak hanya itu para aktor & aktris Korea pun memberikan cheering message untuk para siswa yang menempuh ujian “Suneung”.
song joongki memberikan cheering
 message untuk para peserta
seneung

Konon, peserta ujian juga ada pantangan untuk tidak memakan sup rumput laut dikarenakan licin. Dan licin sama artinya dengan jatoh dan gagal.
Maklumlah, Korea adalah bangsa yang terobsesi dengan pendidikan dan belajar. Memiliki gelar Sarjana di Korea adalah sangat penting, untuk mendapatkan pekerjaan terhormat dan membangun karier. Menurut survei OECD, 63% dari penduduk Korea yang usianya antara 25-34 merupakan lulusan perguruan tinggi. Gak heran, jika ujian masuk perguruan tinggi menarik minat yang tinggi.
suasana sat ujian




sumber




Tim UGM Rebut Medali Emas Kontes Robot di AS

Tim Robot UGM mengikuti dua kejuaraan Robot yang berbeda di Amerika Serikat. Kejuaraan pertama, "Trinity Fire Fighting Robot Contest", diselenggarakan tanggal 6-7 April di Hartford City, Connecticut. Kejuaraan berikurnya, "RoboGames 2013 Olympics of Robots",
diselenggarakan di San Mateo, California, Amerika Serikat, tanggal 19-21 April.Dalam "Trinity Fire Fighting Robot Contest", robot mereka berhasil mengalahkan kreasi mahasiswa dari Amerika Serikat, China, Israel, Rumania, dan Turki. Robot yang diberi nama Hafiz ini menjadi yang tercepat memadamkan api dalam sebuah simulasi dengan lintasan sepanjang 60 meter.

Agys Badruzzaman, salah satu anggota Tim Robot UGM menceritakan, ditempatkan dari posisi manapun, robot Hafiz mampu memadamkan api tanpa melakukan satupun kesalahan. Menurut Agys, salah satu keunggulan mahasiswa Indonesia dibanding negara lain adalah menciptakan robot yang cerdas. 

“Untuk sumber daya manusianya, saya tekankan, Indonesia itu bisa banget. Cuma masalahnya, disini dananya itu kita siapa yang mau support. Kita dari sisi penguasaan teknologi ini nggak kalah, tinggal tekun-tekunan saja, dan semua informasi sudah siap. Dari masalah wawasan kita bisa. Kecerdasan orang yang membuat robotnya kita bisa bersaing, dan robotnya juga bisa kita bikin lebih cerdas,” papar Agys Badruzzaman.

Meskipun selalu unggul dalam menciptakan robot yang cerdas, menurut Agys, perkembangan teknologi robot di Indonesia terkendala oleh terbatasnya suku cadang di dalam negeri. Banyak suku cadang yang harus dibeli dari Amerika Serikat atau Cina.




Robot pemadam api yang memperoleh medali emas dalam Trinity Fire Fighting Robot Contest dan RoboGames 2013 Olympics of Robots di Amerika Serikat.“Kalau sudah mulai yang seperti baterei atau motor servo atau prosesornya, itu semua yang poduksi di luar negeri. Di Indonesia memang banyak yang bikin micro controller sendiri, atau bikin motor servo sendiri, merakit sendiri, tapi kualitasnya kan bukan kualitas pabrik, karena pabrik-pabriknya itu adanya di Korea, Amerika atau Cina. Misalnya prosesornya saja, kalau kita pakai yang terseda di dalam negeri, itu proses mikirnya lambat,” tambahnya.
Dalam kompetisi RoboGames, Tim Robot UGM membawa pulang dua medali emas untuk kategori Fire Fighting Robot dan Natcar Robot dan satu perak untuk kategori Balancer Robot. RoboGames merupakan kompetisi robot terbesar di dunia yang tahun ini diikuti peserta dari 16 negara, terbagi dalam 227 tim, serta membawa 703 robot.

Sementara itu, Ketua Tim Pembimbing Tim Robot UGM Dr Heru SB Rochardjo kepada VOA menjelaskan, di tingkat Asia sebenarnya Indonesia hanya bersaing dengan Vietnam dalam hal kreasi teknologi robot. Kemampuan mahasiswa Indonesia sudah jauh di atas Malaysia maupun Singapura. Tantangannya kini adalah memanfaatkan teknologi robot ini dalam kehidupan sehari-hari.
Ketua Delegasi Tim Robot Indonesia sekaligus Dekan Fakultas MIPA UGM, Drs. Pekik Nurwantoro, M.S., Ph.D., mengatakan prestasi mahasiswa cukup membanggakan Indonesia karena berhasil meraih prestasi di tingkat internasional. Tidak tanggung-tanggung, di Trinity robot contest, tim robot UGM mampu mengalahkan tim robot lain dari 9 negara diantaranya China, Amerika Serikat dan negara di Eropa Timur. Pekik sendiri yang mengaku hadir dan menyaksikan langsung saat tim berlaga di Hartford, menuturkan beberapa peserta dari negara lain menyampaikan kekagumannya pada kemampuan robot Indonesia dan kreativitas tim robot dari UGM. ”Soalnya robot yang dibuat mahasiswa UGM bentuknya mirip laba-laba, sehingga dianggap cukup unik,” kata Pekik dihubungi Selasa (23/4).

Tim robot UGM membawa enam robot untuk ikut dalam dua kompetisi robot di Amerika Serikat. Diceritakan Pekik, saat kompetisi Trinity robot contest berlangsung, robot berkaki dari UGM sempat mengalami masalah di putaran kedua, namun dapat diatasi dan robot bisa menyelesaikan pertandingan. “Setiap pertandingan ada tiga putaran, meski ada masalah, robot mereka bisa menyelesaikan tugas memadamkan api dengan waktu lebih cepat,” katany.


sumber   :voaindonesia.com
               http://www.fakultas-teknik.ugm.ac.id

gamelan menjadi kurikulum di beberapa sekolah Dunia


Gamelan Jawa telah menjadi salah satu kurikulum tetap di New Zealand School of Music (NZSM) dengan kode mata kuliah PERF250 - Special Indonesian Gamelan berdasarkan kesepakatan kerjasama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Wellington dengan NZSM pada tahun 1975. Kesepakatan ini ditindak-lanjuti dengan pemberian seperangkat gamelan Pelog oleh KBRI Wellington dengan status ‘pinjaman permanen’.

Jumlah mahasiswa ‘gamelan course’ tahun 2011 mencapai 23 orang. Melebihi batas maksimal penerimaan mahasiswa khususnya untuk mata kuliah PERF250 sebanyak 18 orang. Ini menunjukkan besarnya minat mahasiswa NZSM untuk mendalami seni budaya Indonesia khususnya gamelan. Jangka waktu pengajaran sangat singkat yaitu satu semester atau kurang lebih 13 minggu. Dalam kurun waktu tersebut, selain mahasiswa harus mampu memainkan sebanyak 3 gending gamelan dengan teknik menabuh yang baik, mereka juga harus mendalami teori tentang sejarah dan perkembangan gamelan.

Kepiawaian para mahasiswa tersebut ditampilkan dalam acara Ujian Akhir mata kuliah gamelan Jawa bertajuk “Heavenly Gongs : Music from Java” pada Minggu, 12 Juni 2011 lalu yang diselenggarakan di Adams Concert Room (ACR) NZSM. Acara tersebut mampu membuat kagum sekitar 200 penonton dari berbagai kalangan seperti mahasiswa, pengajar, masyarakat New Zealand dan Indonesia.

Festival Gamelan Dunia pertama diadakan tahun 1986 di Kanada. Setidaknya terdapat ratusan lebih kelompok ensambel dan studi gamelan di Amerika Serikat, belum lagi di negara lain. Menurut Rahayu Supanggah, penggagas Festival Gamelan Dunia tersebut, Singapura telah menjadikan gamelan sebagai mata pelajaran wajib di berbagai sekolah dasar pada hampir sebagian wilayahnya.
Di Amerika, gamelan Jawa sudah terkenal di berbagai universitas unggulan, seperti Universitas California di Berkeley (gamelan Kyai Udan Mas), San Jose University (gamelan Sekar Kembar), Lewis and Clark College (Kyai Guntur Sari), Michigan, Wiscounsin, Northern Illinois, Oberlin, Wesleyan, dan ratusan universitas terkemuka lainnya.

Di Jepang, gamelan sudah menjadi media ajar di berbagai universitas, seperti Tokyo University of Fine Art and Music dengan grup gamelannya yang bernama Kyai Lambang Sari, di Kuntachi College of Music (Gamelan Sekar Jepun), Dharma Budaya Osaka University, Hyogo University, Tokyo Osaka-Tohogakuen (semuanya college of music).